Minggu, 13 Februari 2011

Kasembon Rafting Malang

Kaesmbon Rafting di Malang Inilah musim revolusi, ketika kulminasi kemarahan meledak mencari bentuknya. Saat tiran dengan jubah demokrasi memahat kepalsuan dalam bahasa politis yang tertata. Suara rakyat dianggap angin lalu, tuntutan perut yang lapar dan dapur tak mengepul, kasembon rafting di malang sementara hak-hak politik terinjak oleh nafsu tahta dibalik tangan besi yang menggurita. Maka revolusi adalah jalan terbaik. Mesir dan Tunisia telah membuktikan.

Kekuatan gerakan massa memperlihatkan kasembon rafting di malang kedigdayaannya. Jika 13 tahun silam (1998),
elemen mahasiswa dan masyarakat Indonesia berhasil menggulingkan rezim Orde Baru
yang dikomandoi oleh Soeharto, Jum'at (11/2) petang kemarin, gerakan massa rakyat
Mesir sukses memaksa Rezim Housni Mubarak meninggalkan istananya. Sukses Mesir
tidak bisa dilepaskan dari rangsangan revolusi serupa di Tunisia satu bulan sebelumnya.

Rafting di Malang

Rafting di Malang Lebih dari sepekan demonstrasi antipemerintah Hosni Mubarak di Mesir berlangsung. Mubarak berjanji tidak akan maju dalam pemilihan presiden mendatang dan tidak akan mendukung keluarganya yang ikut pemilu. Tapi janji itu tidak cukup bagi rakyat Negeri Piramida. Mereka kukuh Mubarak harus angkat kaki.

Rafting di Malang tetap bertahan dengan alasan tidak ingin terjadi kekacauan di Tanah Airnya. Namun lebih dari 300 orang tewas akibat bentrok yang menjadi buntut dari demonstrasi anti Mubarak. Kendati AS menyerukan transisi teroganisir di Bumi Paraoh itu, namun AS tidak tegas meminta Mubarak memenuhi tuntutan rakyat. AS terkesan ragu-ragu.

"AS saya lihat ragu-ragu. Barack Obama masih mencari kata-kata. Mesir di-back up oleh negara Barat. Kalau Rafting di malang dan penggantinya adalah dari kalangan Ikhwanul Muslimin, AS tidak mau," ujar pengamat Timur Tengah dari UGM Siti Mutiah Setiawati.